Selasa, 15 November 2016

Seminar/Workshop Akhir Tahun: "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines"


Henti Jantung (Cardiac arrest) tidak bisa lepas dari penyakit jantung dan pembuluh darah, karena penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit jantung koroner. Setiap tahun terdapat kurang lebih 295.000 kasus cardiac arrest yang ditangani baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit di Unites States (American Heart Asociation, 2012). WHO (2008) menerangkan bahwa penyakit jantung, bersama-sama dengan penyakit infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia. Serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 persen kematian global setiap tahun.

Di Indonesia data yang dikeluarkan oleh Badan  Litbang Kemenkes tahun 2013, bahwa yang di diagnosis dokter, prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang.

Cardiac arrest adalah berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit jantung. Waktu dan kejadiannya tidak terduga, yakni segera setelah timbul keluhan (American Heart Association, 2010). Kematian otak dan kematian permanen terjadi dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit setelah seseorang mengalami cardiac arrest.   Cardiac arrest dapat dipulihkan jika tertangani segera dengan melakukan CardioPulmonary Resusitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan defibrilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bisa bertahan hidup berkurang 7 sampai 10 persen pada tiap menit yang berjalan tanpa CPR dan defibrilasi (American Heart Assosiacion, 2010). Berdasarkan hasil penelitian dari American Heart Association didapatkan data bahwa 64% pasien dengan cardiac arrest yang mendapatkan penanganan segera dapat bertahan hidup tanpa kerusakan otak.

Inti dari penangan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen. Penanganan  secara  cepat  dapat diwujudkan  jika  terdapat  tenaga  yang  memiliki kemampuan dalam melakukan langkah-langkah chain of survival saat cardiac arrest terjadi. Kemampuan inilah yang bisa didapatkan oleh tenaga medis maupun non medis di rumah sakit melalui pelatihan Basic Life Support (BLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS)

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Pro Smart Institute bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (HMPSIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema : "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines" untuk perawat dan mahasiswa keperawatan yang akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 Desember 2016 bertempat di Auditorium Utama Harun Nasution Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah - Ciputat.

Materi dan pembicara seminar/workshop tersebut meliputi :

Highlight of AHA Guidelines Updates for CPR & Emergency Cardiovascular Care (ECC)
Nara Sumber : Jajat Sudrajat, AMK,AMKKK,S.Kep, SKM, EMT-P
[Pengurus Pusat PPNI, Pengurus Pusat Hipgabi, Direktur Utama Pro Emergency, Ketua Yayasan Penanggulangan Gawat Darurat da Bencana Indonesia, Instruktur Internasional AHA"

Materi ini berisi tentang penjelasan American Heart Association (AHA) tentang perubahan-perubahan pedoman penanganan resusitasi jantung paru (RJP) dan penanganan kegawatdaruratan kardiovaskuler lainnya. Materi ini merupakan perbandingan antara guidelines 2010 dengan guideline terbaru 2015 beserta penjelasan alasan-alasan latar belakang terjadinya perubahan dimaksud.

High Quality CPR for Adult, Pediatric and Infant with Automatic External Defibrilator (AED)
Nara Sumber : Samsu Fatah, AMK, S.Kep, EMT-P
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur MFR/CSSR, Instruktur Internasional AHA)

Materi ini berisi tentang CPR berkualitas tinggi pada orang dewasa, anak dan bayi baru lahir sesuai dengan rekomendasi dari AHA. Hal ini sangat ditekankan oleh AHA dalam rangka meningkatkan tingkat keberhasilan pada penanganan pasien dengan henti jantung diantaranya kecepatan kompresi dada, kedalaman, meminimalkan interupsi, dan larangan pemberinan bantuan napas yang berlebihan. pada Materi ini juga disampaikan tindakan CPR dengan menggunakan bantuan alat AED yang saat ini sudah mulai banyak tersedia di kawasan publik.

Neonatal Resuscitation (The Golden Minute Concept)
Nara Sumber : Hellda Ocktaviyana, S.Kep, ners
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur EFR, Instruktur Internasional AHA]

Bayi baru lahir sangat rentan dengan gangguan pernapasan dan sirkulasi. oleh karena itu sangat penting perawat untuk menguasai pengetahuan tentang resusitasi neonatus. Resusitasi neonatus dimulai sejak menit pertama kelahiran, dimulai dengan membersihkan jalan napas, pengecekan respons, batuan napas sampai dengan evaluasi sirkulasi. Kegagalan penanganan menit pertama kelahiran akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup si bayi kedepan.

Preview of ACLS for Nurse
Nara Sumber : Dr. Haddy Prasetio
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur Internasional AHA, BLS TC Faculty - Asia pasific Region]

Selama ini ACLS diangap sebagai milik dokter, dan perawat dianggap tabu untuk masuk wilayah advance. Namun jika kita melihat dunia perawat di luar negeri kemampuan ACLS sudah sangat lazim dikuasi oleh perawat sebagai bagian dari tim resusitasi. Oleh karena itu sudah saatnya dunia keperawatan Indonesia menghapus dogma negatif tersebut agar bisa sejajar dengan kemampuan perawat dinegara lain dalam hal penanganan lanjut kegawatdaruratan kardiovaskuler.
Materi ini mengupas tuntas apa isi dari ACLS yang harus diketahui oleh perawat agar ketika bergabung dalam tim resusitasi bisa satu bahasa dengan dokter dan perawat lain yang sudah terlebih dahulu mengenal ACLS.

Semoga event seminar/workshop ini berguna buat sejawat perawat untuk meng-update keilmuan dibidang kegawatdaruratan kardiovaskuler sekaligus menabung SKP untuk memperpanjang STR yang mulaih habis pada tahun 2017 depan.

Salam Perawat,

Note :
Pendaftaran Via WA only  : 08161415000
format : UPDATE BLS_[NamaLengkap]_[Perawat/Mahasiswa]_[Asal Institusi]_[No.Hp]_[Email]

Seminar/Workshop Akhir Tahun: "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines"


Henti Jantung (Cardiac arrest) tidak bisa lepas dari penyakit jantung dan pembuluh darah, karena penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit jantung koroner. Setiap tahun terdapat kurang lebih 295.000 kasus cardiac arrest yang ditangani baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit di Unites States (American Heart Asociation, 2012). WHO (2008) menerangkan bahwa penyakit jantung, bersama-sama dengan penyakit infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia. Serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 persen kematian global setiap tahun.

Di Indonesia data yang dikeluarkan oleh Badan  Litbang Kemenkes tahun 2013, bahwa yang di diagnosis dokter, prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang.

Cardiac arrest adalah berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit jantung. Waktu dan kejadiannya tidak terduga, yakni segera setelah timbul keluhan (American Heart Association, 2010). Kematian otak dan kematian permanen terjadi dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit setelah seseorang mengalami cardiac arrest.   Cardiac arrest dapat dipulihkan jika tertangani segera dengan melakukan CardioPulmonary Resusitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan defibrilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bisa bertahan hidup berkurang 7 sampai 10 persen pada tiap menit yang berjalan tanpa CPR dan defibrilasi (American Heart Assosiacion, 2010). Berdasarkan hasil penelitian dari American Heart Association didapatkan data bahwa 64% pasien dengan cardiac arrest yang mendapatkan penanganan segera dapat bertahan hidup tanpa kerusakan otak.

Inti dari penangan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen. Penanganan  secara  cepat  dapat diwujudkan  jika  terdapat  tenaga  yang  memiliki kemampuan dalam melakukan langkah-langkah chain of survival saat cardiac arrest terjadi. Kemampuan inilah yang bisa didapatkan oleh tenaga medis maupun non medis di rumah sakit melalui pelatihan Basic Life Support (BLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS)

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Pro Smart Institute bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (HMPSIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema : "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines" untuk perawat dan mahasiswa keperawatan yang akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 Desember 2016 bertempat di Auditorium Utama Harun Nasution Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah - Ciputat.

Materi dan pembicara seminar/workshop tersebut meliputi :

Highlight of AHA Guidelines Updates for CPR & Emergency Cardiovascular Care (ECC)
Nara Sumber : Jajat Sudrajat, AMK,AMKKK,S.Kep, SKM, EMT-P
[Pengurus Pusat PPNI, Pengurus Pusat Hipgabi, Direktur Utama Pro Emergency, Ketua Yayasan Penanggulangan Gawat Darurat da Bencana Indonesia, Instruktur Internasional AHA"

Materi ini berisi tentang penjelasan American Heart Association (AHA) tentang perubahan-perubahan pedoman penanganan resusitasi jantung paru (RJP) dan penanganan kegawatdaruratan kardiovaskuler lainnya. Materi ini merupakan perbandingan antara guidelines 2010 dengan guideline terbaru 2015 beserta penjelasan alasan-alasan latar belakang terjadinya perubahan dimaksud.

High Quality CPR for Adult, Pediatric and Infant with Automatic External Defibrilator (AED)
Nara Sumber : Samsu Fatah, AMK, S.Kep, EMT-P
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur MFR/CSSR, Instruktur Internasional AHA)

Materi ini berisi tentang CPR berkualitas tinggi pada orang dewasa, anak dan bayi baru lahir sesuai dengan rekomendasi dari AHA. Hal ini sangat ditekankan oleh AHA dalam rangka meningkatkan tingkat keberhasilan pada penanganan pasien dengan henti jantung diantaranya kecepatan kompresi dada, kedalaman, meminimalkan interupsi, dan larangan pemberinan bantuan napas yang berlebihan. pada Materi ini juga disampaikan tindakan CPR dengan menggunakan bantuan alat AED yang saat ini sudah mulai banyak tersedia di kawasan publik.

Neonatal Resuscitation (The Golden Minute Concept)
Nara Sumber : Hellda Ocktaviyana, S.Kep, ners
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur EFR, Instruktur Internasional AHA]

Bayi baru lahir sangat rentan dengan gangguan pernapasan dan sirkulasi. oleh karena itu sangat penting perawat untuk menguasai pengetahuan tentang resusitasi neonatus. Resusitasi neonatus dimulai sejak menit pertama kelahiran, dimulai dengan membersihkan jalan napas, pengecekan respons, batuan napas sampai dengan evaluasi sirkulasi. Kegagalan penanganan menit pertama kelahiran akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup si bayi kedepan.

Preview of ACLS for Nurse
Nara Sumber : Dr. Haddy Prasetio
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur Internasional AHA, BLS TC Faculty - Asia pasific Region]

Selama ini ACLS diangap sebagai milik dokter, dan perawat dianggap tabu untuk masuk wilayah advance. Namun jika kita melihat dunia perawat di luar negeri kemampuan ACLS sudah sangat lazim dikuasi oleh perawat sebagai bagian dari tim resusitasi. Oleh karena itu sudah saatnya dunia keperawatan Indonesia menghapus dogma negatif tersebut agar bisa sejajar dengan kemampuan perawat dinegara lain dalam hal penanganan lanjut kegawatdaruratan kardiovaskuler.
Materi ini mengupas tuntas apa isi dari ACLS yang harus diketahui oleh perawat agar ketika bergabung dalam tim resusitasi bisa satu bahasa dengan dokter dan perawat lain yang sudah terlebih dahulu mengenal ACLS.

Semoga event seminar/workshop ini berguna buat sejawat perawat untuk meng-update keilmuan dibidang kegawatdaruratan kardiovaskuler sekaligus menabung SKP untuk memperpanjang STR yang mulaih habis pada tahun 2017 depan.

Salam Perawat,

Note :
Pendaftaran Via WA only  : 08161415000
format : UPDATE BLS_[NamaLengkap]_[Perawat/Mahasiswa]_[Asal Institusi]_[No.Hp]_[Email]

Seminar/Workshop Akhir Tahun: "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines"


Henti Jantung (Cardiac arrest) tidak bisa lepas dari penyakit jantung dan pembuluh darah, karena penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit jantung koroner. Setiap tahun terdapat kurang lebih 295.000 kasus cardiac arrest yang ditangani baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit di Unites States (American Heart Asociation, 2012). WHO (2008) menerangkan bahwa penyakit jantung, bersama-sama dengan penyakit infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia. Serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 persen kematian global setiap tahun.

Di Indonesia data yang dikeluarkan oleh Badan  Litbang Kemenkes tahun 2013, bahwa yang di diagnosis dokter, prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang.

Cardiac arrest adalah berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit jantung. Waktu dan kejadiannya tidak terduga, yakni segera setelah timbul keluhan (American Heart Association, 2010). Kematian otak dan kematian permanen terjadi dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit setelah seseorang mengalami cardiac arrest.   Cardiac arrest dapat dipulihkan jika tertangani segera dengan melakukan CardioPulmonary Resusitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan defibrilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bisa bertahan hidup berkurang 7 sampai 10 persen pada tiap menit yang berjalan tanpa CPR dan defibrilasi (American Heart Assosiacion, 2010). Berdasarkan hasil penelitian dari American Heart Association didapatkan data bahwa 64% pasien dengan cardiac arrest yang mendapatkan penanganan segera dapat bertahan hidup tanpa kerusakan otak.

Inti dari penangan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen. Penanganan  secara  cepat  dapat diwujudkan  jika  terdapat  tenaga  yang  memiliki kemampuan dalam melakukan langkah-langkah chain of survival saat cardiac arrest terjadi. Kemampuan inilah yang bisa didapatkan oleh tenaga medis maupun non medis di rumah sakit melalui pelatihan Basic Life Support (BLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS)

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Pro Smart Institute bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (HMPSIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema : "Update BLS & ACLS Preview accordance 2015 AHA Guidelines" untuk perawat dan mahasiswa keperawatan yang akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 Desember 2016 bertempat di Auditorium Utama Harun Nasution Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah - Ciputat.

Materi dan pembicara seminar/workshop tersebut meliputi :

Highlight of AHA Guidelines Updates for CPR & Emergency Cardiovascular Care (ECC)
Nara Sumber : Jajat Sudrajat, AMK,AMKKK,S.Kep, SKM, EMT-P
[Pengurus Pusat PPNI, Pengurus Pusat Hipgabi, Direktur Utama Pro Emergency, Ketua Yayasan Penanggulangan Gawat Darurat da Bencana Indonesia, Instruktur Internasional AHA"

Materi ini berisi tentang penjelasan American Heart Association (AHA) tentang perubahan-perubahan pedoman penanganan resusitasi jantung paru (RJP) dan penanganan kegawatdaruratan kardiovaskuler lainnya. Materi ini merupakan perbandingan antara guidelines 2010 dengan guideline terbaru 2015 beserta penjelasan alasan-alasan latar belakang terjadinya perubahan dimaksud.

High Quality CPR for Adult, Pediatric and Infant with Automatic External Defibrilator (AED)
Nara Sumber : Samsu Fatah, AMK, S.Kep, EMT-P
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur MFR/CSSR, Instruktur Internasional AHA)

Materi ini berisi tentang CPR berkualitas tinggi pada orang dewasa, anak dan bayi baru lahir sesuai dengan rekomendasi dari AHA. Hal ini sangat ditekankan oleh AHA dalam rangka meningkatkan tingkat keberhasilan pada penanganan pasien dengan henti jantung diantaranya kecepatan kompresi dada, kedalaman, meminimalkan interupsi, dan larangan pemberinan bantuan napas yang berlebihan. pada Materi ini juga disampaikan tindakan CPR dengan menggunakan bantuan alat AED yang saat ini sudah mulai banyak tersedia di kawasan publik.

Neonatal Resuscitation (The Golden Minute Concept)
Nara Sumber : Hellda Ocktaviyana, S.Kep, ners
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur EFR, Instruktur Internasional AHA]

Bayi baru lahir sangat rentan dengan gangguan pernapasan dan sirkulasi. oleh karena itu sangat penting perawat untuk menguasai pengetahuan tentang resusitasi neonatus. Resusitasi neonatus dimulai sejak menit pertama kelahiran, dimulai dengan membersihkan jalan napas, pengecekan respons, batuan napas sampai dengan evaluasi sirkulasi. Kegagalan penanganan menit pertama kelahiran akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup si bayi kedepan.

Preview of ACLS for Nurse
Nara Sumber : Dr. Haddy Prasetio
[Instruktur Senior Pro Emergency, Instruktur Internasional AHA, BLS TC Faculty - Asia pasific Region]

Selama ini ACLS diangap sebagai milik dokter, dan perawat dianggap tabu untuk masuk wilayah advance. Namun jika kita melihat dunia perawat di luar negeri kemampuan ACLS sudah sangat lazim dikuasi oleh perawat sebagai bagian dari tim resusitasi. Oleh karena itu sudah saatnya dunia keperawatan Indonesia menghapus dogma negatif tersebut agar bisa sejajar dengan kemampuan perawat dinegara lain dalam hal penanganan lanjut kegawatdaruratan kardiovaskuler.
Materi ini mengupas tuntas apa isi dari ACLS yang harus diketahui oleh perawat agar ketika bergabung dalam tim resusitasi bisa satu bahasa dengan dokter dan perawat lain yang sudah terlebih dahulu mengenal ACLS.

Semoga event seminar/workshop ini berguna buat sejawat perawat untuk meng-update keilmuan dibidang kegawatdaruratan kardiovaskuler sekaligus menabung SKP untuk memperpanjang STR yang mulaih habis pada tahun 2017 depan.

Salam Perawat,

Note :
Pendaftaran Via WA : 08161415000
format : UPDATE BLS_[NamaLengkap]_[Perawat/Mahasiswa]_[Asal Institusi]_[No.Hp]_[Email]

Postingan Populer